perempuan Indonesia satu

Kisah Sang Astronot Perempuan dari Indonesia yang Sarat akan Prestasi

Kontribusi perempuan di bidang sains dan teknologi sudah sepatutnya diapresiasi. Didominasi kaum pria, keberadaan perempuan di bidang tersebut kadang tak terdeteksi atau dilupakan. Padahal ada banyak nama yang berhasil membanggakan negara, salah satunya Pratiwi Pujilestari Sudarmono, perempuan Indonesia satu ini merupakan astronot perempuan pertama dari Indonesia, bahkan Asia.

Sempat bergabung dalam misi NASA

Lahir pada 31 Juli 1953, Pratiwi Sudarmono pada saat itu hendak melakukan penelitian seputar daya tahan tubuh manusia dan kemungkinan hidup secara berkoloni di luar angkasa. Misi penerbangan dari NASA yang diikuti Pratiwi tentunya bukan sesuatu yang mudah ditembus, sebab peserta harus melewati serangkaian tes dan syarat yang ketat.

Pratiwi adalah satu-satunya peserta dari 200 lebih pelamar asal Indonesia yang dinyatakan layak mengikuti misi tersebut. Tak berhenti sampai di situ, Pratiwi masih harus mempelajari banyak hal, sebut saja tes simulasi saat berada di luar angkasa hingga sistem kerja pesawat ulang-alik.

Pada saat itu, pemberitaan seputar Pratiwi Sudarmono sebagai astronaut perempuan yang berhasil bergabung dengan NASA sangat besar. Sejumlah media besar Asia bahkan meliput perkembangannya. Sayang, setelah Pratiwi terpilih sebagai antariksawan pada November 1985, insiden pesawat ulang-alik Challenger pada 28 Januari 1986 membuat misi yang akan diikutinya dibatalkan.

Hal tersebut tentunya mengecewakan, apalagi Pratiwi akan membawa satelit Palapa B3 dari pusat peluncuran roket yang berada di Florida, Amerika Serikat. Misi yang akan diikutinya pun ditangguhkan selama kurang lebih tiga tahun.

Tetap mengabdi dan menorehkan prestasi

Kegagalannya mengikuti misi penerbangan ke luar angkasa bersama NASA tak membuat Pratiwi lama-lama terpuruk. Seakan tak ingin menyia-nyiakan pengalaman dan pengetahuan yang telah ditimbanya saat ikut pelatihan bersama NASA, Pratiwi memanfaatkannya untuk mengabdi dan menorehkan prestasi untuk Indonesia.

Pada 1988, misalnya, Pratiwi mendapatkan penghargaan sebagai peneliti terbaik Universitas Indonesia sekaligus menjadi Ketua Departemen Mibrobiologi dan Wakil Dekan di Fakultas Kedokteran di universitas tersebut. Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia pun memberikannya gelar Widya Prasara sebagai Ilmuwan Mikrobilogi Teladan pada 1986. Malah pada 1984, Pratiwi sudah mendapatkan gelar doktor di bidang kedokteran dari Research Institute for Microbial Disease, Universitas Osaka.

Setelah itu, sosok yang diidolakan publik, khususnya kaum Hawa di bidang sains dan teknologi, ini terus aktif melakukan riset dan mengoptimalkan manajemen birokrasi. Sepanjang 1990-an, Pratiwi mengembangkan laboratorium menggunakan dana Bantuan Presiden untuk melakukan sejumlah riset, salah satunya kit diagnostik demam berdarah. Hingga pada 2008, dia diangkat menjadi Guru Besar Kehormatan Ilmu Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran UI.

Sampai sekarang, belum ada sosok yang mampu meneruskan jejak Pratiwi Sudarmono. Namun, kehadirannya diharapkan mampu menginspirasi generasi yang lebih muda untuk mewujudkan cita-citanya sebagai astronot.